Cara Mengukur Status Gizi Anak dan Mengapa Penting Dipantau Sejak Dini
27-02-2026
Memantau status gizi anak adalah salah satu langkah penting agar tumbuh kembangnya berjalan optimal. Dengan memperhatikan pola makan, kenaikan berat dan tinggi badan, Bunda bisa memastikan Si Buah Hati tumbuh sesuai usianya.
Lalu, bagaimana cara mengukurnya di rumah dan kapan harus kontrol ke tenaga kesehatan? Mari kita bahas satu per satu.
Apa Itu Status Gizi dan Indikator Pengukurannya?
Status gizi adalah gambaran apakah tubuh anak mendapatkan asupan yang cukup untuk tumbuh kembang yang sehat. Untuk menilai status gizi, ada beberapa indikator standar menurut WHO:
1. Berat Badan menurut Umur (BB/U)
Mengukur apakah berat badan anak sesuai dengan usianya.
2. Tinggi Badan menurut Umur (TB/U)
Menilai apakah tinggi badan anak ideal untuk kelompok usianya. Indikator ini juga berhubungan erat dengan risiko stunting.
Baca Juga: Kapan Perlu Memberikan Susu Penambah Berat Badan?
3. Berat Badan menurut Tinggi Badan (BB/TB)
Digunakan untuk mengetahui apakah proporsi tubuh anak ideal, terlalu kurus, atau berisiko gizi berlebih.
Kabar baiknya, semua informasi tersebut sudah terangkum lengkap di buku KIA berwarna pink yang biasanya diberikan di Puskesmas, Bunda. Buku tersebut biasanya diberikan sejak masa kehamilan dan berisi informasi lengkap tentang pengasuhan, pertumbuhan, dan perkembangan anak.
“Di dalam buku tersebut juga ada informasi kurva pertumbuhan, milestone perkembangan, dan cara stimulasi yang diperlukan anak sampai usia 2 tahun. Jadi orangtua bisa mengacu pada buku KIA,” kata Dokter dari Brawijaya Hospital Antasari, dr. Attila Dewanti, Sp.A (K).
Cara Memantau Status Gizi Anak di Rumah
Bunda bisa memantau progres pertumbuhan anak secara rutin dengan langkah sederhana:
1. Timbang berat badan secara berkala
Gunakan timbangan digital yang akurat. Idealnya dilakukan setiap 1 bulan untuk anak balita.
2. Ukur tinggi badan atau panjang badan
Gunakan microtoise (meteran untuk mengukur tinggi badan), atau jika tidak ada, Bunda bisa menggunakan penggaris panjang dan dinding yang rata. Pastikan anak berdiri tegak tanpa alas kaki.
3. Catat dan bandingkan dengan kurva pertumbuhan
Orang tua bisa mengunduh kurva pertumbuhan WHO di buku KIA, lalu mencatat hasil pengukuran setiap bulan. Dari sini Bunda bisa melihat apakah pertumbuhannya tetap berada pada jalurnya.
Dampak Gizi Kurang atau Berlebih terhadap Tumbuh Kembang
Baik kondisi gizi kurang maupun gizi berlebih, keduanya sama-sama dapat mengganggu tumbuh kembang anak. Menurut dr. Attila, ini dampak yang bisa terjadi pada anak:
- Gizi kurang dapat mempengaruhi perkembangan otak sehingga berdampak pada tumbuh kembang anak secara keseluruhan.
- Gizi berlebih atau obesitas meningkatkan risiko penyakit jangka panjang seperti diabetes melitus tipe 2 dan hipertensi, yang tentu merugikan kesehatan anak di masa depan.
Selain itu, gizi kurang dapat membuat anak rentan sakit, kurang aktif, serta mengalami keterlambatan perkembangan motorik. Sementara obesitas juga bisa mempengaruhi kepercayaan diri dan aktivitas fisik anak.
Peran Susu dan Makanan Seimbang dalam Menjaga Status Gizi
dr. Attila menjelaskan, makanan bergizi seimbang dan susu berperan dalam mencukupi kebutuhan kalori anak agar tumbuh sesuai usianya, sehingga perkembangan juga berjalan dengan baik.
Pastikan setiap menu makan anak mengandung karbohidrat, lemak, protein, vitamin, dan mineral. Bunda juga bisa memilih susu yang terfortifikasi vitamin dan mineral penting seperti DANCOW GroPlus.
Tak hanya mencukupi kebutuhan energi harian anak, susu DANCOW GroPlus merupakan susu tinggi kalsium yang terdiri dari kandungan Protein, dan Vitamin D yang dapat membantu menambah berat dan tinggi badan anak yang dapat dikonsumsi oleh anak usia di atas usia 1 tahun.
DANCOW GroPlus juga adalah diperkaya DHA, zat besi, tinggi kalsium & vitamin D, sumber protein serta 0 gr sukrosa untuk bantu tambah tinggi dan berat badan anak.
Pentingnya Pemeriksaan Rutin ke Posyandu atau Dokter Anak
Menurut dr. Attila, pertumbuhan dan perkembangan anak perlu dipantau rutin oleh tenaga kesehatan. Jika ada penyimpangan, bisa ditangani sedini mungkin.
“Misalnya, jika rutin kontrol, penurunan berat badan atau berat badan yang stagnan bisa segera ditatalaksana sebelum berkembang menjadi gizi buruk atau stunting,” katanya.
Kunjungan rutin juga membantu orang tua mendapatkan edukasi nutrisi yang benar sesuai usia anak, serta memantau perkembangan motorik, bahasa, dan sosial emosional.
Referensi:
- Kurva Pertumbuhan WHO
https://www.idai.or.id/professional-resources/kurva-pertumbuhan/kurva-pertumbuhan-who - What happen to the body during malnutrition?
https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/22987-malnutrition - The impact of undernutrition and overnutrition on early brain development
https://www.sciencedirect.com/science/article/abs/pii/S1071909125000336#:~:text=Both%20forms%20of%20malnutrition%2C%20that,depression%2C%20schizophrenia%2C%20and%20anxiety.