Pola Asuh dan Pola Makan: Dua Kunci Anak Tumbuh Sehat dan Bahagia
27-02-2026
Banyak orang tua yang tidak menyadari, pola asuh berpengaruh erat pada pola makan anak, yang juga akan berdampak pada tumbuh kembangnya. Mulai dari cara berinteraksi, menetapkan aturan, hingga memberikan teladan kebiasaan makan, akan membentuk pola yang terbawa hingga anak beranjak besar.
Nah, agar anak tumbuh sehat sekaligus bahagia, penting bagi orang tua untuk memahami bagaimana pola asuh berperan dalam kebiasaan makan sehari-hari.
Keterkaitan antara Pola Asuh dan Kebiasaan Makan Anak
dr. Attila Dewanti, Sp.A (K) menuturkan, cara asuh memiliki pengaruh besar pada perilaku makan anak. Jika pola asuh terlalu permisif—misalnya orangtua selalu mengikuti keinginan anak—dapat membuat anak berisiko menjadi picky eater atau mengalami status gizi kurang.
Sebaliknya, anak juga bisa makan berlebihan tanpa memperhatikan kandungan gizinya, sehingga bisa membuatnya obesitas, bahkan diabetes di usia dini.
“Karena anak makan hanya berdasarkan keinginannya, bukan kebutuhan tubuhnya,” kata dokter spesialis anak yang praktik di Brawijaya Hospital Antasari ini.
Sebaliknya, pola asuh yang terlalu otoriter juga tidak ideal. Anak bisa sampai trauma makan, atau mengasosiasikan waktu makan dengan pengalaman yang tidak menyenangkan. Artinya, pola asuh yang ekstrem di dua sisi berpotensi menimbulkan masalah makan pada anak.
Gaya Asuh yang Mendorong Anak Mandiri dalam Memilih Makanan Sehat
Mengutip PubMed Central, gaya asuh yang paling direkomendasikan adalah otoritatif, yaitu keseimbangan antara kehangatan dan batasan yang jelas. Bunda tetap memegang aturan, namun tetap memberikan ruang bagi anak untuk belajar dan berekspresi.
dr. Attila menjelaskan, orang tua perlu membuat aturan yang konsisten dan dipertahankan meski anak merengek—misalnya aturan hanya boleh makan kue setelah menghabiskan makanan utama. Komunikasikan aturan dengan lembut, validasi emosi anak, namun tetap tegas.
Selain itu, jadwal makan yang teratur setiap hari sangat penting. Rutinitas membantu anak mengenal rasa lapar dan kenyang secara alami, sehingga mereka belajar memilih makanan bukan karena emosi atau kebiasaan ngemil.
Baca Juga: Pola Asuh Dukung Anak Percaya Diri
Cara Menciptakan Lingkungan Makan yang Positif di Rumah
Agar anak memiliki hubungan yang sehat dengan makanan, suasana makan perlu terasa nyaman dan menyenangkan.
Menurut dr. Attila, Bunda bisa mulai dengan:
- Makan bersama di meja makan tanpa distraksi gawai.
- Mengobrol santai agar anak merasa waktu makan adalah momen hangat keluarga.
- Memberikan anak makanan yang sama seperti anggota keluarga lain, sehingga ia belajar mengenal variasi makanan.
Lingkungan yang positif akan membuat anak lebih mudah menerima makanan baru, lebih rileks, serta membangun kebiasaan makan sehat jangka panjang.
Peran Ayah dan Ibu dalam Membangun Kebiasaan Makan Keluarga
Bunda, gaya asuh dan kebiasaan makan tidak akan efektif bila hanya dijalankan salah satu pihak. Ayah dan ibu sebaiknya menjadi satu tim yang konsisten. Anak belajar dari teladan; bila ia melihat kedua orang tuanya makan dengan teratur, menikmati sayur, dan mengikuti aturan makan yang sama, ia akan lebih mudah menirunya.
Konsistensi antara ayah dan ibu juga membantu menghindari kebingungan pada anak. Misalnya, saat Ayah melarang makan camilan sebelum makan utama, namun Bunda memperbolehkannya, anak akan sulit memahami batasan yang seharusnya.
Referensi:
- Parental Feeding Practice
https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC9914567/ - Parenting styles, food-related parenting practices, and children’s healthy eating
https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC7529118/ - The relationship of parenting style and eating behavior in preschool children
https://www.researchgate.net/publication/365700534_The_relationship_of_parenting_style_and_eating_behavior_in_preschool_children