Panduan Toilet Training Anak: Tips Agar Si Buah Hati Cepat Mandiri
16-09-2020
Semakin bertambahnya usia Si Buah Hati, Bunda perlu mempersiapkannya untuk toilet training agar ia bisa mandiri dan dapat melakukan buang air kecil (BAK) dan buang air besar (BAB) di toilet sendiri.
Namun tahukah Bunda kalau untuk melatih Si Buah Hati menggunakan toilet sendiri, anak membutuhkan persiapan baik secara fisik, kognitif, dan juga psikologis? Nah, artikel ini akan membahas mengenai serba-serbi toilet training anak. Yuk, simak!
Kapan Usia Anak Siap Toilet Training?
Bunda mungkin bertanya-tanya usia berapa atau kapan waktu yang tepat toilet training? Sebenarnya, tidak ada patokan usia yang pasti kapan Si Buah Hati siap untuk memulai toilet training. Itu karena proses ini membutuhkan kesiapan yang menyeluruh. Namun, usia tetap bisa menjadi gambaran awal untuk melihat kapan Si Buah Hati mulai dapat dikenalkan dengan toilet training
Sebagai gambaran, secara fisik, bayi belum mampu mengendalikan otot kandung kemih dan rektumnya hingga ia berusia sekitar 18 bulan. Kesiapan fisik dan psikologis anak secara umum baru mulai terlihat pada rentang usia 18 bulan hingga 3 tahun.
Meski demikian, sebagian besar anak baru benar-benar berhasil menguasai keterampilan ini saat menginjak usia 2 hingga 3 tahun. Bunda dapat menjadikan rentang waktu tersebut sebagai panduan awal, sembari terus memantau kesiapan Si Buah Hati, karena memaksakan toilet training terlalu dini justru berpotensi memicu stres dan menghambat proses belajarnya.
Tanda Kesiapan Fisik dan Emosional Anak untuk Toilet Training
Meski usia bisa menjadi panduan awal, tanda anak siap toilet training bisa berbeda. Karena itu, Bunda juga perlu memperhatikan tanda-tanda yang muncul dari tubuh, kebiasaan, dan respons emosional Si Buah Hati sehari-hari.
Secara fisik, anak dikatakan siap jika popoknya tetap kering setidaknya selama dua jam atau saat bangun tidur , yang menunjukkan kemampuan mengendalikan otot kandung kemih. Selain itu, jadwal buang air besarnya mulai bisa diprediksi. Si Buah Hati juga harus mampu berjalan menuju toilet, duduk dengan stabil, serta menarik celananya sendiri.
Secara emosional, ia umumnya mulai menunjukkan rasa tidak nyaman saat popoknya basah atau kotor. Anak juga tampak tertarik melihat orang lain menggunakan toilet, mampu mengikuti instruksi sederhana, dan bisa mengomunikasikan keinginannya kepada Bunda saat perlu buang air.
Stimulasi Ajarkan Si Buah Hati Toilet Training
Supaya Si Buah Hati siap dilatih menggunakan toilet sendiri, Bunda bisa memberikan beberapa stimulasi berikut ini untuk mempersiapkan fisik, kognitif, dan psikologis Si Buah Hati sejak usia toddler (1-3 tahun).
1. Melatih Kemampuan Fisik
Agar Si Buah Hati siap secara fisik, ada beberapa kemampuan motorik yang penting untuk distimulasi rutin. Misalnya, kemampuan berjalan dengan baik, kemampuan untuk duduk atau jongkok tenang kurang lebih 2-5 menit, serta kemampuan menaikkan dan menurunkan celananya sendiri.
Untuk melatih kemampuan ini, Bunda bisa memberikan beberapa stimulasi sederhana seperti: mengajak dan menuntun Si Buah Hati berjalan menuju toilet untuk melepaskan popoknya atau pakaiannya. Berikan Si Buah Hati baju dan celana yang mudah dibuka agar ia lebih mudah melepaskan sendiri pakaiannya saat di toilet.
Untuk membiasakan Si Buah Hati duduk tenang di toilet, Bunda dapat melatihnya dengan cara mengajak Si Buah Hati duduk di pispot (menggunakan popok) dan membiarkannya berdiri saat ia ingin. Kemudian setelah terbiasa, lepaskan popoknya saat duduk di pispot dan kosongkan isi popoknya ke dalam pispot. Jelaskan juga bahwa kotoran yang ada di popoknya adalah benda yang harus dibuang ke toilet.
2. Melatih Kemampuan Kognitif
Kesiapan kognitif Si Buah Hati untuk toilet training terlihat dari kemampuannya mengikuti dan menuruti instruksi sederhana, punya bahasa sendiri untuk buang air kecil dan buang air besar, kemampuan Si Buah Hati memahami reaksi tubuhnya saat ingin buang air kecil atau besar, serta kemampuan untuk menyampaikan keinginan saat ingin buang air.
Untuk melatih kemampuan kognitif ini, Bunda sebaiknya rutin bertanya dan menjelaskan kepada Si Buah Hati, misalnya apakah saat pipis popoknya terasa basah? Apakah saat popoknya basah ia merasa nyaman?
Perhatikan juga ekspresi Si Buah Hati saat ingin buang air, misalnya ia memegang perut, lalu tanyakan apakah ia ingin buang air sehingga Si Buah Hati dapat memahami reaksi tubuhnya sendiri.
Dukung juga Si Buah Hati untuk tidak takut dan malu menyampaikan keinginannya buang air, misalnya dengan ucapan “Kalau adik ingin pipis atau pup, bilang sama Bunda ya?”.
3. Melatih Kemampuan Psikologis
Kesiapan psikologis Si Buah Hati saat toilet training berkaitan dengan kebutuhan akan suasana yang nyaman agar mampu mengontrol serta berkonsentrasi saat buang air besar dan buang air kecil.
Untuk melatih kesiapan ini, Bunda bisa memberikan stimulasi dengan mengajarkan Si Buah Hati meniru rutinitas Bunda saat ingin buang air. Dengan begitu, Si Buah Hati memahami bahwa kebiasaan toilet training yang ia lakukan juga dilakukan oleh orang tuanya. Selain itu, berikan stimulasi dengan mendukung kepercayaan diri Si Buah Hati sehingga secara psikologis ia termotivasi untuk terus latihan toilet training. Saat ia berhasil, pujilah Si Buah Hati, namun saat ia gagal jangan menyalahkan apalagi memarahinya karena ini bisa membuat anak jadi ragu-ragu melakukan toilet training.
Langkah-langkah Memulai Toilet Training Anak
Setelah kesiapan fisik, kognitif, dan psikologis mulai terbentuk, Bunda dapat masuk ke tahapan toilet training balita yang lebih terarah. Proses ini sebaiknya dilakukan perlahan agar Si Buah Hati memahami rutinitas barunya tanpa merasa takut atau tertekan. Berikut beberapa langkah yang bisa Bunda lakukan untuk memulai toilet training anak.
- Kenalkan toilet beserta fungsinya terlebih dahulu kepada Si Buah Hati. Bunda bisa menggunakan alat bantu seperti pispot atau dudukan kloset khusus anak agar ia merasa nyaman.
- Bangun rutinitas dengan mengajak anak ke toilet pada waktu yang teratur, seperti saat bangun tidur, setelah makan, atau sebelum tidur.
- Ajarkan tahapan penggunaan toilet secara perlahan, mulai dari cara duduk, membersihkan area kemaluan, menyiram toilet, hingga mencuci tangan.
- Pakaikan Si Buah Hati celana berkaret elastis yang mudah ditarik turun.
- Tetaplah konsisten dan hindari memberikan hukuman ketika anak sesekali masih mengompol.
Kesalahan Umum yang Perlu Dihindari Saat Membantu Anak Toilet Training
Dalam proses toilet training, wajar bila Si Buah Hati sesekali lupa, menolak, atau belum berhasil menggunakan toilet tepat waktu. Namun, Bunda tidak perlu panik atau memberi respons terlalu keras. Untuk itu, Bunda perlu mengetahui beberapa kesalahan umum yang sering terjadi saat membantu anak toilet training berikut ini.
- Memulai toilet training terlalu dini sebelum anak benar-benar menunjukkan tanda kesiapan secara perkembangan
- Memaksa anak duduk di toilet atau pispot dalam waktu yang terlalu lama, sebab ini bisa terasa seperti sebuah hukuman bagi Si Buah Hati
- Marah, menunjukkan sikap negatif, atau memberi hukuman saat anak sesekali masih mengompol atau mengalami kemunduran
- Membandingkan kemajuan Si Buah Hati dengan anak lain, karena setiap anak memiliki waktu kesiapan dan ritme belajar yang berbeda-beda.
Dengan menghindari beberapa kesalahan tersebut, Bunda dapat membantu Si Buah Hati menjalani toilet training dengan lebih tenang. Hal ini juga mendukung proses pembentukan kemandirian anak sejak dini.
Tips Agar Anak Cepat Mandiri dan Percaya Diri Toilet Training
Sebagai salah satu bentuk kemandirian, toilet training perlu dilatih dan dikembangkan pada anak sedini mungkin. Menurut penelitian, jika kemandirian Si Buah Hati tak dilatih sejak dini, hal ini dapat menghambat perkembangan anak di masa depan.
Meski begitu, saat melatih Si Buah Hati Bunda juga perlu sabar dan tidak terburu-buru karena untuk bisa melakukan toilet training dengan sukses Si Buah Hati harus memiliki kesiapan dan keinginan dalam melakukannya.
Agar cara melatih anak toilet training semakin nyaman, Bunda bisa membantu Si Buah Hati merasa lebih mampu dan percaya diri saat mencoba. Dukungan kecil yang konsisten dapat membuatnya lebih berani mengenali sinyal tubuh dan pergi ke toilet secara mandiri.
Untuk menumbuhkan kemandirian dan rasa percaya diri Si Buah Hati saat toilet training, Bunda perlu memberikan dukungan penuh tanpa paksaan. Dorong keyakinan dirinya dengan menyampaikan bahwa ia mampu menggunakan toilet secara mandiri.
Berikan pujian atau hadiah sederhana, seperti stiker, pada setiap kemajuan kecilnya, bahkan jika ia baru sekadar mau duduk di pispot. Pendekatan positif ini sangat penting untuk terus memotivasinya dan mencegah anak merasa tertekan.
Selanjutnya, tips sukses toilet training adalah membangun rutinitas harian secara konsisten dan biarkan ia perlahan mengenali kebutuhan tubuhnya sendiri, sehingga kontrol diri dan kemandirian anak dapat terbentuk secara nyata. Setelah melakukan toilet training satu hingga dua bulan, biasanya anak akan menggunakan toilet tanpa perlu diingatkan lagi.
Selain latihan yang konsisten, kemandirian Si Buah Hati juga perlu didukung oleh tubuh yang sehat dan energi yang cukup. Karena itu, Bunda tetap perlu memperhatikan asupan nutrisi hariannya selama masa tumbuh kembang.
Untuk membantu Si Buah Hati membentuk kemandiriannya lewat proses toilet training anak, Bunda juga dapat mendukung dengan memberikannya makanan yang beraneka ragam dan bergizi seimbang nutrisi yang lengkap. Dengan asupan nutrisi yang lengkap dan seimbang, Bunda telah mendukung dan menjaga perlindungan kesehatan serta daya tahan tubuh Si Buah Hati tercinta.
DANCOW 1+ Imunutri merupakan produk susu yang diformulasi untuk anak Indonesia usia 1-3 tahun. DANCOW 1+ Imunutri dapat membantu mendukung daya tahan tubuh dan tumbuh kembang optimal Si Buah Hati dengan kandungan 0g Sukrosa, DHA, Zat Besi, Omega 3 & 6, Tinggi Kalsium, Protein, Vitamin D, serta Vitamin A, C, E, dan Zink.
Pertanyaan Seputar Toilet Training Anak
1. Apa saja tanda-tanda fisik dan perilaku bahwa anak sudah siap untuk toilet training?
Secara fisik, anak siap ketika popoknya tetap kering minimal selama dua jam, jadwal buang air besarnya mulai teratur, serta mampu berjalan ke toilet dan menarik celananya sendiri. Sementara itu, tanda perilakunya terlihat saat anak merasa tidak nyaman dengan popok kotor, tertarik melihat orang lain menggunakan toilet, mampu mengikuti instruksi sederhana, dan bisa mengomunikasikan keinginannya untuk buang air.
2. Apa yang harus dilakukan jika anak sering mengompol saat toilet training?
Jika anak masih mengompol, Bunda harus tetap konsisten dan menghindari respons yang terlalu keras atau hukuman. Bersikap marah atau menghukum justru merupakan kesalahan yang bisa membuat anak merasa ragu dan tertekan selama proses belajar. Sebaliknya, Bunda perlu bersabar dan terus memberikan dukungan positif tanpa paksaan agar anak kembali percaya diri.
3. Berapa lama waktu yang dibutuhkan sampai anak benar-benar bisa mandiri menggunakan toilet?
Anak umumnya baru benar-benar berhasil menguasai keterampilan ini saat menginjak usia 2 hingga 3 tahun. Proses toilet training umumnya memakan waktu satu hingga dua bulan hingga anak benar-benar mandiri secara konsisten.
Referensi:
Toilet Training - IDAI. Retrieved on July 20th 2026, from https://www.idai.or.id/artikel/klinik/pengasuhan-anak/toilet-training
Potty Training Your Child - Seattle Children’s Hospital. Retrieved on July 20th 2026, from https://www.seattlechildrens.org/health-safety/parenting/toliet-potty-training/
Sembelit (Konstipasi) pada Anak - IDAI. Retrieved on July 20th 2026, from https://www.idai.or.id/artikel/klinik/keluhan-anak/sembelit-konstipasi-pada-anak
Potty training: What works - BabyCenter. Retrieved on July 20th 2026, from https://www.babycenter.com/toddler/potty-training/potty-training-what-works_4397
Menggali Lebih Lanjut Tentang Toilet Training : Kenali Tanda Kesiapan Dan Atur Strategi Yang Tepat. Pendidikan Anak Usia Dini FIP UNESA. Retrieved on July 20th 2026, from https://paud.fip.unesa.ac.id/post/menggali-lebih-lanjut-tentang-toilet-training-kenali-tanda-kesiapan-dan-atur-strategi-yang-tepat
Do’s and don’ts of potty training your toddler - UC Davis Children’s Hospital. Retrieved on July 20th 2026, from https://health.ucdavis.edu/children/patient-education/potty-training-children
6 Things to Never Do When Potty Training Your Kid - Parents. Retrieved on July 20th 2026, from https://www.parents.com/potty-training-common-mistakes-to-avoid-8549617
Potty training: How to get the job done - Mayo Clinic. Retrieved on July 20th 2026, from https://www.mayoclinic.org/healthy-lifestyle/infant-and-toddler-health/in-depth/potty-training/art-20045230