Bunda, Yuk, Kenali Tahapan Perkembangan Bahasa Si Buah Hati Ini!
09-07-2024
Bunda yang memiliki anak yang masih bayi mungkin tidak sabar menanti kapan Si Buah Hati bisa diajak berbicara. Tahukah Bunda, perkembangan bahasa anak usia dini sebenarnya sudah dimulai sejak mereka lahir lho. Mulai dari menangis, tersenyum, tertawa, bergumam, akhirnya bisa memahami kata dan berkomunikasi.
Menariknya, apa pun bahasa yang digunakan oleh orangtuanya, semua anak di dunia belajar bahasa dengan cara yang sama. Normalnya, ada tiga tahap perkembangan bahasa, yakni mengenal bunyi, mengenal kata, dan membuat kalimat. Namun, setiap anak akan mengembangkan keterampilan bahasa dengan kecepatan berbeda, asal masih di rentang waktu atau milestonenya.
Sebelum usia satu tahun, bayi sudah dapat memahami lusinan kata. Seiring bertambah usia, kosa kata bayi semakin kaya dan bisa memahami lebih dari 200 kata. Kemampuan ini terus berkembang hingga komunikasi pada toddler sudah bisa merangkai kalimat yang terdiri dari 2 kata atau lebih.
Dalam artikel ini akan dibahas seputar perkembangan bahasa anak usia dini, mulai dari fase-fasenya, faktor yang mempengaruhi perkembangan bahasa, dan metode stimulasi bahasa.
Pentingnya Perkembangan Bahasa Sejak Dini
Bahasa adalah elemen krusial bagi anak untuk berkomunikasi, bersosialisasi, dan mengekspresikan perasaannya.[1] Tiga tahun pertama adalah masa paling intensif bagi anak untuk menyerap bahasa[2], sejalan dengan 90% pertumbuhan otak yang terjadi sebelum usia lima tahun.[3]
Kemampuan bahasa sangat penting karena menjadi fondasi utama bagi keterampilan literasi, kelancaran kognitif, keberhasilan akademik, hingga kompetensi sosial-emosional Si Buah Hati pada masa depan.[4]
Perkembangan bahasa tidak hanya terlihat dari banyaknya kata yang dapat diucapkan, tetapi juga dari kemampuan anak memahami pesan yang diterimanya.
Perbedaan Bahasa Reseptif dan Ekspresif
Secara garis besar, kemampuan bahasa terbagi menjadi dua, yaitu bahasa reseptif dan bahasa ekspresif. Bahasa reseptif merupakan kemampuan memahami informasi atau input. Sedangkan bahasa ekspresif adalah kemampuan mengungkapkan pikiran, kebutuhan, dan perasaan melalui gerakan, suara, atau kata-kata.
Contoh kemampuan bahasa reseptif dalam keseharian terlihat saat Si Buah Hati mengerti dan menuruti instruksi ketika Bunda mengatakan, “Tolong ambilkan bola itu”.[5] Meskipun belum dapat mengucapkan banyak kata, anak mungkin sudah memahami nama benda dan maksud dari permintaan Bunda.
Sebaliknya, bahasa ekspresif terlihat saat anak menunjuk mainan yang diinginkan, melambaikan tangan, mengeluarkan suara tertentu, atau menyusun kata untuk menyampaikan perasaannya.[6]
Kedua kemampuan tersebut berkembang secara bertahap seiring bertambahnya usia Si Buah Hati.
Tahapan Perkembangan Bahasa Berdasarkan Usia
Setiap anak memiliki kecepatan perkembangan yang berbeda. Namun, terdapat beberapa patokan umum yang bisa Bunda amati berdasarkan kelompok usia berikut.
- 0–1 tahun: Bayi mulai merespons suara. Jika Bunda sering bertanya-tanya pada usia berapa bayi cooing, kemampuan merespons dengan suara ini umumnya mulai muncul di usia 1-3 bulan.[7] Sementara itu, untuk menjawab rasa penasaran mengenai bayi bisa babbling usia berapa, anak biasanya memasuki fase ini pada usia 4-7 bulan dengan melafalkan suku kata berulang seperti “ma-ma” atau “da-da”.[8] Di rentang usia ini pula, mereka mulai menunjuk benda dan kata pertama yang diucapkan bayi umumnya terjadi di usia sekitar 12 bulan.
- 1–2 tahun: Si Buah Hati mampu memahami instruksi sederhana. Kosakatanya berkembang hingga sekitar 50 kata dan ia mulai merangkai dua kata menjadi kalimat, seperti “ayo pergi”.
- 2–3 tahun: Anak mulai memakai kata ganti “aku” atau “kamu”, sering bertanya “mengapa”, dan mampu merangkai kalimat yang terdiri dari tiga hingga empat kata.
- 3–5 tahun: Anak mulai bisa bercerita dengan lebih detail, menjawab pertanyaan yang lebih kompleks, dan ucapannya semakin mudah dimengerti orang lain.
Untuk melihat perkembangan pada dua tahun pertama secara lebih terperinci, Bunda dapat memperhatikan kemampuan bahasa Si Buah Hati pada setiap usia berikut.
Fase-fase Perkembangan Bahasa Anak Usia Dini
Berikut fase perkembangan bahasa pada bayi mulai dari 0 bulan sampai 2 tahun:
3 bulan
- Tersenyum saat melihat Bunda atau orang yang dikenali
- Mulai berceloteh
- Tenang atau tersenyum saat diajak berbicara
- Mengenali suara Bunda
- Suara tangisan mereka berbeda untuk setiap kondisi berbeda.
6 bulan
- Membuat suara saat bermain
- Mengoceh dan membuat berbagai suara
- Mengeluarkan suara untuk menunjukkan suka dan tidak suka
- Menggerakkan mata ke arah suara
- Menanggapi perubahan nada suara
- Memperhatikan musik.
12 bulan
- Mencoba meniru suara
- Mulai mengucapkan “papa”, “mama”, atau “uh-oh”
- Mengetahui nama benda seperti sepatu, bunga, baju
- Berbalik dan melihat ke arah datangnya suara.
18 bulan
- Mengetahui nama orang, benda dan bagian tubuh
- Mengikuti perintah sederhana yang diberikan dengan isyarat
- Bisa mengucapkan 10 kata.
24 bulan
- Mulai bisa membuat kalimat sederhana, misalnya susu lagi
- Menyusun satu-dua kata seperti sampai jumpa
- Mengikuti perintah sederhana dan memahami pertanyaan sederhana
- Ucapkan sekitar 50 kata atau lebih.
Tahapan dan fase tersebut dapat menjadi panduan umum bagi Bunda. Namun, kemampuan memahami bahasa biasanya berkembang lebih dahulu dibandingkan kemampuan mengucapkan kata. Karena itu, Si Buah Hati mungkin sudah mengerti banyak hal meskipun belum banyak berbicara.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Bahasa Anak Usia Dini
Perkembangan bahasa anak usia dini dapat dipengaruhi faktor eksternal dan internal. Faktor internal yang mempengaruhi perkembangan bahasa bayi 0-12 bulan adalah kesehatan ibu selama masa kehamilan dan genetik orangtua. Dari faktor internal tersebut, fungsi pendengaran dan kapasitas kognitif sangat menentukan proses penyerapan bahasa.
Faktor eksternal meliputi lingkungan, stimulasi berbicara dari keluarga, dan kebiasaan. Kurangnya komunikasi dua arah secara langsung antara orangtua dan anak juga dapat menghambat perkembangan bahasa.[9] Oleh karena itu, Bunda perlu memberikan kesempatan kepada Si Buah Hati untuk mendengar, merespons, dan terlibat dalam percakapan sehari-hari.
Mitos dan Fakta Seputar Perkembangan Bahasa
Ada berbagai macam mitos yang kerap menyertai perkembangan bahasa anak. Berikut di antaranya:
1. Anak Laki-Laki Wajar Terlambat Bicara
Faktanya, kecepatan perkembangan anak laki-laki dan perempuan hampir sama. Sehingga keterlambatan pada anak laki-laki tetap harus diwaspadai dan jangan dibiarkan.[10]
2. Paparan dua bahasa atau bilingual akan membuat anak bingung
Faktanya, anak bilingual justru dapat memiliki fleksibilitas kognitif yang baik dan tidak akan mengalami keterlambatan hanya karena hal tersebut.[11]
3. Baby talk atau bahasa bayi akan membuat anak terlambat bicara
Faktanya, menggunakan intonasi riang untuk menarik perhatian anak sah-sah saja, asalkan tata bahasa dan kata yang diucapkan Bunda tetap diucapkan dengan artikulasi yang benar.[12]
Cara Menciptakan Lingkungan yang Mendukung Perkembangan Bahasa
Lingkungan yang kaya interaksi membantu Si Buah Hati mendengar, memahami, dan menggunakan lebih banyak kata. Bunda dapat menciptakannya dengan rutin membacakan buku cerita, mengajak bernyanyi, dan selalu merespons celotehan anak.
Libatkan anak dalam percakapan sehari-hari dan bantu mengembangkan kalimatnya. Misalnya, jika ia berkata “mobil”, Bunda bisa membalas, “Iya, itu mobil merah yang melaju cepat”.[13]
Penting juga untuk membatasi penggunaan gawai atau screen time, karena komunikasi tatap muka lebih efektif dalam melatih kemampuan bahasa.
Berbagai kebiasaan tersebut dapat diterapkan melalui stimulasi sederhana berikut ini.
Baca Juga: Mengenal Fase Babbling dan Cara Meresponnya
Stimulasi Bahasa pada Anak Usia Dini
Agar anak bisa berbicara, perlu stimulasi atau latihan dari orang tua. Ada beberapa stimulasi bahasa yang bisa Bunda lakukan di rumah untuk melatih kemampuannya.
1. Perhatikan bayi
Perhatikan dan tanggapi gerakan bayi yang merupakan upaya awal non-verbal dalam proses mempelajari bahasa. Bayi Bunda mungkin akan mengangkat kedua lengan untuk meminta digendong atau menyodorkan mainan untuk mengajak bermain. Si Buah Hati mungkin juga mendorong piring atau menutup mulut untuk mengatakan mereka sudah kenyang. Saat bayi melakukan gerakan-gerakan kecil tersebut, tersenyumlah dan lakukan kontak mata, kemudian tanggapi permintaan bayi tersebut.
2. Beri pujian
Tersenyumlah dan beri tepuk tangan bahkan pada upaya terkecil atau paling membingungkan dalam pembicaraan bayi. Bayi mempelajari bahasa melalui reaksi orang dewasa di sekitarnya.
3. Baby talk
Bayi senang mendengar suara orang tuanya. Dan ketika orang tua berbicara dengan mereka, hal itu membantu perkembangan bicara. Semakin sering Bunda melakukan "baby talk" dengannya, dengan menggunakan kata-kata yang pendek, sederhana namun benar, semakin banyak kata yang akan coba diucapkan Si Buah Hati.
4. Menjelaskan
Bicarakan tentang apa yang Bunda lakukan saat memandikan, berpakaian, memberi makan, dan mengganti pakaiannya. Penjelasan setiap kegiatan ini akan membantu bayi menghubungkan objek dan aktivitas yang sedang mereka lakukan.
5. Ulangi
Meski Bunda belum memahami apa yang ingin disampaikan Si Buah Hati, teruslah berusaha memahami. Ulangi dengan lembut apa yang menurut Bunda dikatakan, dan tanyakan apakah itu benar. Terus berikan perhatian penuh kasih sayang sehingga bayi Bunda merasa dihargai karena mencoba berbicara.
6. Bermain dan membaca buku
Dorong anak untuk bermain, berpura-pura, berimajinasi, dan membaca buku untuk mengembangkan keterampilan verbal saat ia menginjak usia balita.
Metode dan Teknik yang Efektif dalam Stimulasi Bahasa
Cara alami seseorang memperoleh bahasa adalah dengan mengucapkannya. Dengan belajar mengucapkan suatu kata, bahasa tumbuh secara organik dalam pikiran si Buah Hati. Ini artinya, membuat anak mengucapkan suatu kata adalah cara paling efektif untuk menstimulasi bahasanya.
Untuk membuat anak mengucapkan suatu kata, penelitian menunjukkan empat metode paling efektif yang bisa Bunda lakukan di rumah untuk mendukung perkembangan bahasa anak adalah mengadakan alat peraga di rumah (bisa berupa gambar yang dicetak, benda sehari-hari, maupun mainan), sering mengajak bicara anak, mendongeng atau bercerita, dan membacakan Si Buah Hati buku setiap hari.
Mudahnya, Bunda bisa menstimulasi kemampuan bahasa dari sejak anak baru lahir. Katakan apa yang sedang terjadi, apa yang sedang Bunda lakukan, dan sebutkan nama benda-benda yang ditemui oleh anak. Kemudian buku cerita adalah cara yang baik untuk meningkatkan kosakata anak. Saat membaca buku, tunjuk gambar dan sebut nama benda yang ditunjuk tersebut agar anak lebih paham.
Pentingnya Memantau Milestone Secara Berkala
Memantau tonggak perkembangan atau milestone anak secara rutin penting dilakukan sejak 1.000 hari pertama kehidupan dan dilanjutkan sesuai pertambahan usianya.[14] Pemantauan membantu Bunda mengetahui apakah kemampuan memahami dan mengungkapkan bahasa Si Buah Hati berkembang sesuai rentang usianya.
Keterlambatan bicara yang diabaikan dapat menimbulkan dampak jangka panjang, seperti kesulitan belajar di sekolah, hambatan dalam membaca, gangguan perilaku, hingga kecemasan sosial pada masa remaja.[15] Namun, keterlambatan yang diketahui lebih awal memiliki kesempatan lebih besar untuk segera dievaluasi dan ditangani.
Jika Bunda menemui tanda bahaya atau merasa Si Buah Hati tidak mencapai perkembangan sesuai usianya, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis anak. Dengan begitu, evaluasi dan intervensi dapat dilakukan sedini mungkin sesuai kebutuhan anak.[16]
Itulah tahapan perkembangan bahasa anak usia dini dan cara stimulasinya. Perkembangan bicara dan bahasa sebaiknya dapat dikenali Bunda sedini mungkin agar memahami kebutuhan Si Buah Hati. Ketika memasuki usia di atas 1 tahun, kemampuan bahasa Si Buah Hati semakin berkembang. Maka dari itu, penting bagi Bunda untuk membimbing Si Buah Hati agar perkembangan bahasanya optimal.
Selain itu, Bunda dapat pantau pertumbuhan Si Buah Hati secara rutin. Masukkan data tinggi dan berat badan anak melalui Grafik Pertumbuhan untuk melihat grafik pertumbuhannya dengan mudah. Cek pertumbuhan Si Buah Hati sekarang dan dukung setiap langkah tumbuh kembangnya!
Jangan lupa untuk lengkapi kebutuhan gizi harian Si Buah Hati ya, Bunda!
Pertanyaan Seputar Perkembangan Bahasa Anak Usia Dini
1. Kapan bayi biasanya mulai bisa mengucapkan kata pertama yang bermakna?
Bayi umumnya mulai bisa mengucapkan kata pertama mereka saat menginjak usia sekitar 12 bulan. Pada rentang waktu tersebut, anak biasanya mulai meniru suara dan mengucapkan kata-kata sederhana seperti "papa" atau "mama".
2. Bagaimana cara terbaik menstimulasi perkembangan bahasa bayi di rumah?
Cara terbaik menstimulasi perkembangan bahasa bayi di rumah adalah dengan rutin membacakan buku, mendongeng, sering mengajak bicara, serta menggunakan alat peraga seperti mainan atau gambar. Selain itu, Bunda sangat dianjurkan untuk selalu merespons celotehan anak dengan penuh perhatian dan menjelaskan aktivitas sehari-hari yang sedang dilakukan bersamanya.
3. Apa tanda-tanda awal speech delay (keterlambatan bicara) pada bayi yang harus diwaspadai?
Tanda utama keterlambatan bicara yang harus diwaspadai adalah ketika Si Buah Hati tidak mencapai tahapan perkembangan (milestone) bahasa yang sesuai dengan rentang usianya. Jika Bunda merasa anak tidak mencapai patokan usia tersebut, hal itu merupakan tanda bahaya yang mengharuskan Bunda untuk segera berkonsultasi dengan dokter spesialis anak.
Referensi:
- Strategi Efektif untuk Anak Mencapai Perkembangan Bahasa Sesuai Usia - Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan. Retrieved July 28, 2026, from https://keslan.kemkes.go.id/view_artikel/3897/strategi-efektif-untuk-anak-mencapai-perkembangan-bahasa-sesuai-usia
- Speech and Language Developmental Milestones - NIDCD. Retrieved July 28, 2026, from https://www.nidcd.nih.gov/health/speech-and-language
- Early learning and development - Best Start in Life - NHS. Retrieved July 28, 2026, from https://www.nhs.uk/best-start-in-life/early-learning-development/
- Finders, J., Wilson, E. M., & Duncan, R. J. (2023). Early Childhood Education Language environments: Considerations for Research and Practice. Frontiers in Psychology, 14(14). https://doi.org/10.3389/fpsyg.2023.1202819
- An Early Childhood Educator’s Guide to Receptive Language - My Bright Wheel. Retrieved July 28, 2026, from https://mybrightwheel.com/blog/receptive-language
- Receptive Language vs. Expressive Language - NAPA Center. Retrieved July 28, 2026, from https://napacenter.org/receptive-vs-expressive-language/
- Communication and Your 1- to 3-Month-Old (for Parents) - Nemours KidsHealth. Retrieved July 28, 2026, from https://kidshealth.org/en/parents/c13m.html
- When Do Babies Start Babbling—and What Does It Sound Like? - The Bump. Retrieved July 28, 2026, from https://www.thebump.com/a/when-do-babies-start-babbling
- Keterlambatan Bicara pada Anak Usia Dini - Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan. Retrieved July 28, 2026, from https://keslan.kemkes.go.id/view_artikel/3244/keterlambatan-bicara-pada-anak-usia-dini
- Speech Therapy Myths vs. Facts - Health Alliance. Retrieved July 28, 2026, from https://healthalliance.in/speech-therapy-myths-vs-facts/
- Busting 5 Myths on Bilingual Language Development - Newcastle Speech Pathology. Retrieved July 28, 2026, from https://www.newcastlespeechpathology.com.au/post/busting-5-myths-on-bilingual-language-development
- Debunking Myths about Speech and Language - Therapeutic Endeavors. Retrieved July 28, 2026, from https://therapeuticendeavors.com/debunking-myths-about-speech-and-language/
- Help for early years providers : Exploring language - Education.Gov.Uk. Retrieved July 28, 2026, from https://help-for-early-years-providers.education.gov.uk/areas-of-learning/communication-and-language/exploring-language
- Pentingnya Pemantauan Tumbuh Kembang 1000 Hari Pertama Kehidupan Anak - IDAI. Retrieved July 28, 2026, from https://www.idai.or.id/artikel/klinik/pengasuhan-anak/pentingnya-pemantauan-tumbuh-kembang-1000-hari-pertama-kehidupan-anak
- Dampak Jangka Panjang Keterlambatan atau Gangguan Bicara-Bahasa, Hal yang perlu diketahui orangtua - IDAI. Retrieved July 28, 2026, from https://www.idai.or.id/artikel/klinik/pengasuhan-anak/dampak-jangka-panjang-keterlambatan-atau-gangguan-bicara-bahasa-hal-yang-perlu-diketahui-orangtua
- Mencegah Terlambat Bicara pada Anak - IDAI. Retrieved July 28, 2026, from https://www.idai.or.id/artikel/klinik/pengasuhan-anak/mencegah-terlambat-bicara-pada-anak